Indonesia telah 4 kali dirampok secara besar-besaran
Indonesia telah 4 kali dirampok secara besar-besaran

Indonesia telah 4 kali dirampok secara besar-besaran

Jika 3 perampokan pertama didominasi oleh orang asing, maka perampokan keempat justru dilakukan oleh pejabat Indonesia yang katanya “melaksanakan amanah rakyat”



Skenario untuk 4 Kali Perampokan
Jika dirunut sejak awal, maka boleh dikatakan bahwa Indonesia telah 4 kali dirampok secara besar-besaran yakni 350 tahun penjajahan Belanda, 3.5 penjajahan Jepang, 32 tahun orba, dan BLBI dan turunannya BPPN.

1. Perampokan Penjajahan Belanda Selama 150 tahun
Selama 150 tahun, kolonialisme Belanda mengeruk sumber kekayaan olahan Indonesia dalam perkebunan, rempah-rempah dan diakhir-akhir adalah minyak bumi dan tambang lain.

Disamping itu, Belanda secara nyata-nyata merampok hak hidup rakyat Indonesia dengan sistem paksa. Ribuan triliun kekayaan alam kita dirampok bahkan nilai yang tidak dapat diuangkan dari nyawa-nyawa rakyat kita yang diperbudak. Belum lagi warisan korupsi VOC yang ditularkan kepada masyarakat nusantara.Sudah semestinya nenek-moyang pemerintah Belanda memiliki tanggungjawab moril kepada nenek moyang bangsa kita.

2. Perampokan Penjajahan Jepang Selama 3,5 tahun
Dikatakan bahwa penderitaan penjajahan 3.5 tahun oleh Jepang hampir sama dengan 350 tahun pemerintahan Belanda. Sama seperti kasus Belanda, maka karena besarnya penderitaan fisik maupun mental akibat penjajahan Belanda kepada kakek-nenek kita, maka secara moril dan materil Jepang harus mengganti seluruh kerugian akibat perampokan sumber kekayaan alam, tanaman jarak, romosha.

Dan selama 3.5 tahun, pemerintahan Jepang diminta membayar sekurang-kurangnya 25 triliun (total sekurang-kurangnya 87.5 triliun). Dan secara tertulis dalam sebuah monumen di negeri Sakura mencantumkan pernyataan maaf kepada nenek-moyang bangsa Indonesia.

3. Perampokan Penjajahan Ekonomi, Politik Selama Orba (1967-1998)
Selama hampir 32 tahun, praktis negara kita dikuasai oleh kekuatan asing. Itullah yang dikatakan oleh John Pilger maupun John Perkins dan sejarawan Asviwarman. Selama 32 tahun Bank Dunia, anggota Paris Club, lembaga keuangan menjerat Indonesia dengan utang yang tidak terbayar dengan kebocoran/korupsi lebih kurang 30% dari 128 miliar dollar.

Disamping itu perusahaan dan konglomerat Cina menguras kekayaan alam kita dan melakukan pembohongan publik seperti dilakukan Freeport yang menambang emas tapi mengatakan menambang tembaga.

Begitu juga kontrak kerja migas, bijih besi, hutan dan lain-lain. Ratusan bahkan ribuan triliun kekayaan alam kita dirampok di depan pejabat orba. Oleh karena itu, langkah pertama adalah pemerintah harus menghapus 30% utang yang bocor dari lembaga keuangan. Langkah kedua kontrak kerja/karya yang selama ini merugikan bangsa ditarik bahkan jika dapat diminta pertanggungjawaban (ekstrimnya mengembalikan kerugian).

4. Perampokan BLBI dan BPPN
Jika 3 perampokan pertama didominasi oleh orang asing, maka perampokan keempat justru dilakukan oleh warga Indonesia dan disetujui oleh para pejabat negara yang katanya “melaksanakan amanah rakyat”. BLBI adalah salah satu sejarah perampokan yang masih dapat kita telusuri dan ikuti secara pasti hingga detik ini.

Perampokan uang negara dengan memberi BLBI yang tidak transparan seperti laporan BPK dan penghianatan kepada rakyat Indonesia dengan menyatakan lunas membayar padahal baru membayar setengah dari total utang kepada negara. Begitu juga kasus penjualan bank BPPN dengan sangat murah serta BUMN strategis.

Ratusan bahkan triliun rupiah telah dirugikan atas transaksi ini. Semua angkat tangan kasus ini. Solusinya: oke kita beri win-win solution. Para pejabat yang keliru memberi keputusan yang merugikan keuangan negara dan rakyat, majulah dan mengakulah kepada publik. Lalu, kasus ini kita selesaikan secara bersama-sama.

Jujurlah bahwa keputusan yang keliru adalah keliru dan benar adalah benar. Bagaimanapun hutang harus dibayar, dan sungguh tidak adil jika utang bankir dan obligor ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia yang sama sekali tidak mencicipinya. Sungguh tidak adil.

Seorang kreditor motor yang telah membayar 18 dari 24 bulan harus rela motornya disita karena selama 2 atau 3 bulan tidak sanggup membayar, padahal sudah 75% kreditor tersebut kooperatif dalam mencicil utang. Inilah ketidakadilan.

Baca juga:

Share this with short URL:
 
Admin
Code Lab admited that though we trying to describe accurately, we cannot verify the exact facts of everything posted. Posting may contains information, speculation, or rumor. We found images from Web that were believed to belongs on public domain. The blog is a personal online records. But, hopefully, these articles also gather usefulness for stray visitors to read this blog from somewhere and for any reasons. Thank You.
Pilih sistem komentar sesuai akun anda ▼
Blogger
Disqus

Tidak ada komentar

» Komentar anda sangat berguna untuk peningkatan mutu artikel
» Terima kasih bagi yang sudah menulis komentar.