Disebut jaman edan ketika akal sehat sudah diremehkan,
 Disebut jaman edan ketika akal sehat sudah diremehkan,

Disebut jaman edan ketika akal sehat sudah diremehkan,

Apabila sudah tidak punya rasa malu, maka orang akan melakukan berbagai macam perbuatan tanpa kendali (sekehendak hati)



Ketika Masa Aib Terbuka…

Ketika masa aib terbuka
Ketika waktu menenggelamkan rasa malu
Saat zaman kehilangan iman
Mana manusia… mana bukan

“Zaman edan” itu mungkin istilah yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ronggowarsito, dalam  Serat Kalatida, menggambarkan sebuah zaman ketika identitas nilai-nilai jungkir balik, zaman kalabendu, yakni zaman saat orang tidak lagi bisa memahami benar dan salah.

Semua nilai bercampur aduk dalam labirin yang membuat orang mengalami kebutaan, buta mata hati, pikiran, nurani, dan mata “indrawi”-nya. Suatu zaman ketika masing-masing orang tak lagi merasa bersalah dengan kebohongan, tak peduli terhadap orang lain. Manusia hidup dalam zaman ini dengan keresahan, kegelisahan, dan ketidakpercayaan satu sama lain.

“Kalabendu” (Sinom): Amenangi zaman edan / Ewuh aya ing pambudi / Amelu edan nora tahan / Yen tan melu anglakoni / Boya keduman melik / Kaliren wekasanipun // Dilalah kersa Allah / Sabegja-begjaning kang lali / Luwih begja, kang eling lan waspada.

Terjemahan bebas:

“Zaman Edan” : Menjalani zaman edan / sikap dan pendirian susah ditentukan / jika tak tahan, ikut edan / kalau tak ikut, tak kebagian / hasilnya kelaparan // Dilalah kehendak Allah semata / sebesar-besarnya keuntungan orang yang alpa / masih untung orang yang sadar dan waspada.

[Serat Kalatida, bait/pada ke-7, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802 – 1873)]

“Kalatida adalah zaman edan karena akal sehat diremehkan, sedangkan kalabendu adalah zaman hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai dan nilai kebenaran dijungkirbalikkan secara merata.”  Inikah yang dinamakan zaman kalabendu?

Zaman serba tidak teratur, zaman yang tidak lagi memiliki arah, yang benar disalahkan dan yang salah malah diagung-agungkan.

KalatidhaSerat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi.

Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Ronggowarsito dalam karyanya di atas mengisahkan bahwa martabat negara hancur berantakan. Aturan, hukum, dan undang-undangnya tidak diindahkan dan diinjak-injak. Contoh-contoh yang luhur tidak ada lagi.

Orang-orang terpelajar terbawa arus dalam kepincangan zaman. Suasananya mencekam, sebab hidup penuh dengan kerepotan. Ibarat yang salah jadi benar, dan yang benar menjadi salah. Yang halal menjadi haram, dan yang haram memnjadi halal.

Pada dasarnya kepincangan-kepincangan itu tidaklah bersumber dari pemerintahan, tetapi semuanya mengalir dari jiwa-jiwa masyarakat dan manusianya. Pemimpin pemerintahan termasuk orang yang baik. Patihnya juga cerdik. Semua anak buah hatinya baik.

Pemuka-pemuka masyarakat juga baik. Tetapi semuanya itu tidak membawa kebaikan. Justru malah sebaliknya.

Hal itu disebabkan oleh kutukan zaman. Bahkan keusahpayahan semakin menjadi-jadi. Lantaran perbedaan persepsi, pandangan, pikiran, serta tujuan manusiannya masing-masing. Semuanya saling membenarkan diri-sendiri. Walau sudah jelas dirinya bersalah.

Saat itulah hukum menjadi barang dagangan yang tengah diobral murah. Pemerintah tak berdaya. Yang berharta jadi penguasa. Berhak menentukan jalan hidupnya. Tak peduli benar-salah dan halal-haramnya cara yang ditempuhnya. Yang penting tujuan tercapai, segalanya digilasnya.

Melihat fenomena semacam itu, Ronggowarsito menangis sedih. Ia merasa malu dan terhina. Realitas yang ada penuh dengan fitnah dan intrik. Segalanya seolah-olah tampak menghibur dan menggembirakan. Di depan seseorang bersifat manis dan memuji-muji, tetapi jika seseorang itu tidak ada, maka ia justru balik menikamnya

Berbagai macam gosip dan rumor datang tak menentu pada zaman itu. Di mana-mana selalu ada gosip, bahkan hampir diseluruh penjuru dipenuhi dengan gosip. Bukan gosip yang positif, melainkan hanya sekedar mengumbar aib. Orang-orang banyak yang berebut kedudukan.

Setiap kepala ingin duduk memerintah. Oleh sebab itu, janji-janji berhamburan demi menggapai tujuan. Tapi pada akhirnya itu hanya sekedar bualan.

Kata-kata yang telah diucapkan justru malah tidak diperhatikan sama sekali. Sibuk dengan perutnya sendiri. Sebenarnya, kalau benar-benar direnungkan, menjadi pemimpin itu tidak ada guna-faedahnya. Justru malah menumpuk kesalahan-kesalahan saja. Bahkan jika lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kesusahpayahan yang berujung pada bencana. (ref)

Ketika Masa Aib Terbuka

maluKetika iman hilang dalam pergaulan, hukum diperjualbelikan, hawa nafsu menguasai waktu sementara agama hanya gurauan belaka maka pantaslah disematkan sebagai zaman jahiliyah atau zaman kegelapan.

Menurut Muhammad Quthb dalam bukunya ‘Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin’ (Jahiliyah Abad 20), jahiliyah modern merupakan ringkasan dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan aksesori di sana-sini sesuai dengan perkembangan jaman. Sikap jahiliyahan modern yang tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang.

Dalam zaman globalisasi ini, kejahiliyahan alias “keedanan” tersebut termanifestasi dalam semakin rakusnya manusia mencari kesenangan dengan menindas orang lain, dalam hubungan-hubungan manusia yang didasari oleh hubungan kapital.

Walaupun sekularisasi banyak ditentang dan dinyatakan salah dalam beberapa hal, sekularisasi sungguh menggerogoti dunia keseharian manusia modern. Dunia kehidupan yang didasari hanya oleh kesenangan dan materialisme.

Demi nafsu manusia telah hilang rasa malu maka aib terbuka pun tak apa-apa, padahal karena malu kehormatan terjaga, karena malu bujukan nafsu terpelihara, karena malu batas-batas sosial terbina.

Karena malu adalah bagian iman maka hilang malu hilanglah iman, menjaga rasa malu adalah menjaga iman, memelihara rasa malu adalah memelihara iman. Dengan malu dan iman, jangankan aib terbuka, berbuat aibpun tak jadi rencana.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Hakim dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya rasa malu (untuk melakukan perbuatan buruk) dan keimanan adalah dua hal yang selalu digandengkan dan dikaitkan.

Apabila diangkat salah satunya maka akan diangkat pula yang lainnya.” Sabda Rasulullah SAW tersebut menggambarkan dengan jelas tentang salah satu konsekuensi iman yang sangat penting, yakni terbangunnya rasa malu dengan kuat untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela dan merusak. Apabila rasa malu itu hilang, akan hilang pula kekuatan keimanan yang menyertainya.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW menyatakan, “Apabila engkau sudah tidak punya rasa malu, maka engkau akan melakukan berbagai macam perbuatan tanpa kendali apa pun (sekehendak hati).” Maka tak penting lagi segala pertimbangan untuk melakukan suatu perbuatan, apakah baik atau buruk, benar atau salah.

Celakanya lagi segala perbuatan itu diumbar ke muka umum maka terbukalah aib diri. Aib bak selebriti di panggung sensasi yang berbuatnya bangga, yang menebar beritanya gembira. Maka inilah masa aib terbuka, satu orang berbuat seluruh masyarakat celaka, yang berbuat aib, yang membuka aib dan yang mendengar cerita-cerita aib semua kena malapetaka… Na’udzubillah.

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka, maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya.”(HR. at-Tirmidzi).

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam bukunya Al Da’wah Al Tammah, mengutip ucapan Sayyidina Al Hasan Al Bashri, terkait meneliti aib diri sendiri. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Engkau tidak akan memperoleh hakikat iman selama engkau mencela seseorang dengan sebuah aib yang ada pada dirimu sendiri.

Perbaikilah aibmu, baru kemudian engkau memperbaiki aib orang lain. Setiap engkau memperbaiki satu aibmu, maka akan tampak aib lain yang harus kau perbaiki. Akhirnya kau sibuk memperbaiki dirimu sendiri.

Dan sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah dia yang sibuk memperbaiki diri sendiri. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidak ada hari seperti hari kiamat, hari dimana aib terbuka dan mata menangis.”

Wallahu’alam

Cucu-cucuku
negara terlanda gelombang zaman edan
cita-cita kebajikan terhempas batu
lesu dipangku batu
tetapi aku keras bertahan
mendekap akal sehat dan suara jiwa
biarpun tercampak diselokan zaman ~ Mas Kumambang- WS Rendra~
 
Pilih sistem komentar sesuai akun anda ▼
Blogger

No comments

» Komentar anda sangat berguna untuk peningkatan mutu artikel
» Terima kasih bagi yang sudah menulis komentar.